| 4. |
Description |
Abstract |
Penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan fenomena yang ‘Indoglish’ dan ‘Jawanesia’ dalam domain pendidikan. Deskripsi dilakukan dengan menggambarkan bentuk ‘Indoglish’ dan ‘Jawanesia’ dilanjutkan dengan deskripsi motif yang ada entitas bahasa tersebut, diikuti oleh deskripsi dampak terhadap upaya dignifying bahasa Indonesia. Data penelitian ini diambil dari ucapan-ucapan langsung diucapkan oleh guru, dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan, di manapun dan kapanpun mungkin, di lembaga pendidikan tertentu di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode partisipasi, apakah itu partisipasi wawancara atau partisipasi tanpa wawancara. Data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan dan ditandai sebelum metode dan teknik analisis data yang diterapkan. Untuk menganalisis data, peneliti menerapkan metode distribusi analisis. Hasil analisis kemudian disajikan dalam bentuk cara informal hasil penelitian presentasi, tidak dalam bentuk formal yang salah yang konvensional digunakan simbol dan rumus bentuk bahasa. Hasil penelitian tersebut dapat diringkas seperti berikut: (A) bentuk ‘Indoglish’ dan ‘Jawanesia’ terjadi di tingkat kata, frasa, klausa, dan kalimat. Bentuk-bentuk ‘Indoglish’ sebagian besar dalam bentuk kata-kata atau frasa, sedangkan bentuk linguistik dari ‘Jawanesia’ berada dalam bentuk klausa atau kalimat. (B) Motif menggunakan ‘Indoglish’ dan ‘Jawanesia’ dapat kemudian disebutkan sebagai berikut: (1) prestise dalam berbicara dan membangkitkan hubungan dekat, (2) motif serampangan dan membuat rasa humor, (3) pretention motif dan menunjukkan kebanggaan, (4) menunjukkan tertutup hubungan, (5) menunjukkan jengkel, (6) menunjukkan arogansi, (7) yang menunjukkan memiliki kompetensi bahasa yang baik, (8) penceritaan tertutup hubungan kepada orang lain, (9) yang menunjukkan kompetensi bahasa dan persahabatan tertutup, (10) yang menunjukkan penekanan, (11) yang menunjukkan kompetensi bahasa dan kemudahan dalam berbicara, (12) yang menunjukkan kompetensi bahasa dan prestise, (13 ) yang menunjukkan perasaan bangga, (14) yang menunjukkan gaya tertentu dalam berbicara, (15) pembuatan kemudahan dalam berbicara, (16) pembuatan kemudahan dalam berbicara dan menunjukkan kejengkelan, (17) pembuatan kemudahan dalam berbicara dan menunjukkan tertutup hubungan, (18) yang menunjukkan kompetensi bahasa yang baik dan pretention dalam berbicara, (19) yang menunjukkan dari pretention dalam berbicara dan menunjukkan kompetensi bahasa, (20) pembuatan kemudahan dalam berbicara dan menunjukkan niat, (21) pretensi dalam berbicara dan menunjukkan persahabatan (C) Implikasi dari ‘Indoglish’ dan ‘Jawanesia’ terhadap upaya dignifying bahasa Indonesia adalah sebagai berikut. (1) Penggunaan ‘Indoglish’ dan ‘Jawanesia’ yang tidak dianggap positif dan kesalahan dalam menggunakan bahasa yang tampaknya akan diabaikan mungkin akan menghancurkan bahasa Indonesia secara keseluruhan sekarang dan kemudian. (2) Upaya mengoptimalkan dinamika dan martabat bahasa Indonesia akan terhalang karena banyak orang tidak memiliki pengabdian dalam menggunakan bentuk bahasa tapi kemudian mereka cenderung menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang tidak mendukung pelaksanaan bahasa Indonesia yang benar. (3) Sebagai salah satu manifestions dari syles bahasa Indonesia dan / atau mendaftar, pengembangan ‘Indoglish’ dan ‘Jawanesia’ seharusnya tidak terlalu khawatir sejauh diikuti oleh kesadaran konteks dan menggunakan dengan bahasa Indonesia. Kata Kunci: ‘Indoglish’, ‘Jawanesia’, fenomena, konteks, martabat bahasa |