EFEKTIFITAS PEMANFAATAN TANAMAN SEBAGAI INSEKTISIDA ELEKTRIK UNTUK MENGENDALIKAN NYAMUK PENULAR PENYAKIT DBD

Aseptianova Aseptianova, Tutik Fitri Wijayanti, Nita Nurina

Abstract

Penggunaan obat anti nyamuk berbahan dasar kimia marak dilakukan seiring meningkatnya populasi nyamuk demam berdarah (DBD). Pencegahan nyamuk dengan memanfaatkan bahan alami menjadi salah satu alternatif yang tidak hanya menguntungkan bagi manusia tapi juga lingkungan sekitar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas daun mint, lengkuas, Sambiloto, babadotan, daun alpukat, daun salam, pucuk merah, dan daun zodia sebagai obat anti nyamuk elektrik terhadap nyamuk Aedes aegypti. Prosedur penelitian dilakukan menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 8 variabel bebas (8 tanaman) dan 1 variabel terikat (nyamuk Aedes aegypti). Jumlah perlakuan sebanyak 9 dengan 3 kali ulangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa dalam waktu 5 menit, ekstrak yang paling efektif untuk mortalitas nyamuk adalah pada ekstrak daun Alpukat dan daun Salam sebanyak 100%, ekstrak lengkuas sebanyak 82,22%, esktrak daun Mint sebanyak 51,11%, dan ekstrak daun Babadotan sebanyak 8,89%. Ekstrak daun salam dan daun alpukat mampu membunuh nyamuk dalam waktu 5 menit, lengkuas dan daun mint mampu membunuh nyamuk dalam waktu 10 menit dengan persentase lengkuas yang lebih besar. Ekstrak daun Babadotan mampu membunuh nyamuk dalam waktu 20 menit, sedangkan ekstrak Zodia mampu membunuh nyamuk dalam waktu 30 menit (perhitungan menit ke-25 dan menit ke-30). Hasil analisis menunjukkan signifikansi sebesar (0,00) < 0,05 yang berarti ekstrak tanaman berpengaruh nyata terhadap mortalitas nyamuk Aedes aegypti L.

Keywords

Insektisida Botani, Insektisida Elektrik, DBD, Aedes aegypti L.

References

Adekunle, O. A., & Ayodele, F. T. (2014). Insecticidal Activity of the Aqueous Leaves Extract of Andrographis paniculata as Protectant of Cowpea Seeds from Callosobruchus macula-tus Infestation. Central Euro-pean Journal of Experimental Biology. 3 (1):29-33.

Admadi H, Bambang. (2009). Mempelajari Bagian Tanaman dan Konsentrasi Ekstrak Kunci Pepet (Kaempferia rotunda L.) yang mempunyai Sifat Repelan Nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Agrotekno 15 (2): 43-48.

Aseptianova. (2015). Pemanfaatan Tanaman Sebagai larvasida Alami terhadap Nyamuk Penyebab Demam Berdarah (Aedes aegypti, L.). Palembang; Universitas Muhammadiyah Palembang.

Aseptianova. (2015). Pemanfaatan Berbagai Ekstrak Tanaman sebagai Larvasida Alami. Laporan Penelitian tidak diterbitkan. Palembang: LPPM Universitas Muhammadiyah Palembang.

Boesri, H., Heriyanto, B., Handayani, S. W., & Suwaryono, T. (2015). Uji Toksisitas Beberapa Ekstrak Tanaman terhadap Larva Aedes Aegypti Vektor Demam Berdarah Dengue. Vektora. 7 (1): 29-38.

Budiasih, Kun Sri. (2011). Pemanfaatan Beberapa Tanaman yang Berpotensi Sebagai Bahan Anti Nyamuk. Artikel. Yogyakarta: Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNY.

Charyadie, F. L., Adi, S., & Sari, R. P. (2014). Daya Hambat Ekstrak Daun Alpukat (Persea americana, Mill.) Terhadap Per-tumbuhan Enterococcus faecalis. Denta Jurnal Kedokteran Gigi. 8 (1).

Cushnie T, Lamb AJ. (2005). Antimi-crobial activity of flafonoids. International Journal of Anti-microbial Agents. 26: 343-56.

Departemen Kesehatan RI. (1995). Petunjuk Teknis Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah. Jakarta: Direktorat Jenderal, PPM & PLP, Buku Paket B.

Fitriah, S. (2015). Pengaruh Ekstrak Batang Brotowali (Tinospora crispa) terhadap Kematian Larva Nyamuk Aedes aegypti dan Sumbangsihnya pada Mata Pelajaran Biologi di SMA/MA. Skripsi. Palembang: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.

Harahap, P. S. (20014). Evektivitas Ekstrak Umbi Gadung (Di-oscorea hipsida Dents) dalam Pengendalian Larva Nyamuk. Jurnal IPTEKS Terapan. 8 (1).

Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Haryati, N. A., Saleh, C., & Erwin. (2015). Uji Toksisitas dan Ak-tivitas Antibakteri Ekstrak Daun Merah Tanaman Pucuk Merah (Syzygium myrtifolium walp.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Jurnal Kimia Mulawarman. 13 (1).

Kardinan, Agus. (2001). Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi Cetakan ke-3. Jakarta: Penebar Swadaya.

Kardinan, Agus. (2004). Tanaman Pengusir Nyamuk. Tabloid Sinar Tani. www.litbang.deptan.go.id. Diakses tanggal 24 Juli 2016, Pukul 20.00 WIB.

Kardinan, A. (2007). Tanaman Pengusir dan Pembasmi Nyamuk Edisi Ketiga. Jakarta: Agro Media Pustaka.

Liem, A.F., Holle, E., Gemnafle, I.Y., & Wakum, S. (2013). Isolasi Senyawa Saponin dari Man-grove Tanjang (Bruguiera gymnorrhiza) dan Pemanfaatannya sebagai Pestisida Nabati pada Larva Nyamuk. Jurnal Biologi Papua. 5 (1): 29-36.

Nofyan, E., Marisa H., dan Kamal M. (2013). Eksplorasi Biolarvasida dari Tumbuhan untuk Pengendalian Larva Nyamuk Aedes ae-gypti di Sumatera Selatan. Prosiding Semirata FMIPA Univer-sitas Lampung 2013.

Novizan. (2002). Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. Jakarta: Agro Media Pustaka.

Nurdjannah, N., (2004). Diversifikasi Penggunaan Cengkeh. Perspektif, Vol. 3(2), 61-70.

Nuria, M.C., Faizatun. A., dan Su-mantri. (2009). Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Jarak Pagar (Jatropha cuircas L) ter-hadap Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923, Esche-richia coli ATCC 25922, dan Salmonella typhi ATCC 1408. Jurnal Ilmu – ilmu Pertanian 5: 26 – 37.

Nursal. (2005). Kandungan Senyawa Kimia EkstrakLengkuas (Al-piniagalanga L.) Toksisitas dan Pengaruh Subletalnya terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti. (Online). http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 836/3/06000449.pdf.txt. Di-akses tanggal 22 Juli 2016, Pukul 20.00 WIB.

Raini, M. (2009). Toksikologi Insek-tisida Rumah Tangga dan Pencegahan Keracunan. Media Peneliti dan Pengembangan Kesehatan XIX.

Rahman, M. S. & Sofiana, L. (2016). Perbedaan Kerentanan Status Nyamuk Aedes aegypti terhadap Malathion di Kabupaten Bantuk Yogyakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 11 (2).

Riyanti. (1996). The effect of lengkuas (Languas galanga (L.) Stuntz) extract to growth of fungi caused skin disease Tri-chophyton mentgrophytes (Robin) Blancard and Microsporum gypseum (Bodin) Guiart Grigorakis in vitro. Thesis. Bandung: Bandung Institute of Technology.

Sabir A. (2003). Pemanfaatan flavonoid di bidang kedokteran gigi. Majalah Kedokteran Gigi (Dental Journal) Edisi Khusus Temu Ilmiah Nasional. III: 81–7.

Sari, F.P., & Sari, S. M. (2011). Ekstraksi Zat Aktif Antimikro-ba dari Tanaman Yodium (Jatropha multifida Linn) se-bagai Bahan Baku Alternatif Antibiotik Alami. Technical Report. Semarang: Universitas Diponegoro.

Sastrohamidjojo, H. (2004). Kimia Minyak Atsiri. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Soemirat, J. (2003). Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta: UGM Press.

Utami, S., Syaufina, L., & Haneda, N. F. (2010). Daya Racun Ekstrak Kasar Daun Bintaro (Cerbera odollam gaertn.) Terhadap larva Spodoptera litura Fabricius. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia 15 (2): 96-100.

Widyantoro, W. (2011). Pengaruh Formulasi The Daun Jambu Biji (Psidium guajava) sebagai Campuran The Terhadap Zona Daya Hambat Mikrobia Anti Diare (Shigella dysenteriae). Yogyakarta: Politeknik Kesehatan.

Yunita, E.A., N.H. Suprapti, J.S. Hidayat. (2009). Ekstrak Daun Teklan (Eupatorium riparium) terhadap Mortalitas dan Perkembangan Larva Aedes aegypti. Bioma 11 (1): 11-17.

Article Level Metrics

Refbacks

  • There are currently no refbacks.