TINGKAT PLOIDI PAKU SAYUR (Diplazium esculentum) PADA KETINGGIAN YANG BERBEDA DI GUNUNG MERBABU, BOYOLALI, JAWA TENGAH, INDONESIA

Anggun Wulandari, Rina Dian Rahmawati

DOI: https://doi.org/10.23917/bioeksperimen.v5i1.7981

Abstract

Pada tumbuhan paku sering terjadi fenomena poliploidi dan salah satu penyebab yang diduga dapat menimbulkan peristiwa poliploidi adalah suhu dingin. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ploidi paku sayur (Diplazium esculentum) pada ketinggian yang berbeda di Gunung Merbabu. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Objek yang digunakan adalah tumbuhan paku Diplazium esculentum yang diambil dari ketinggian yang berbeda (±500 mdpl, ±1500 mdpl, dan ±2500 mdpl) di salah
satu gunung tinggi Indonesia, yaitu Gunung Merbabu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat ploidi Diplazium esculentum pada ketinggian yang berbeda. Tumbuhan paku Diplazium esculentum yang berada pada ketinggian ±500 mdpl menunjukkan hasil tipe sitologi diploid (2n) yang memiliki jumlah rata-rata kromosom adalah 54,2; pada ketinggian ±1500 mdpl menunjukkan hasil tipe sitologi triploid (3n) yang memiliki jumlah rata-rata kromosom adalah 80,533; sedangkan pada ketinggian ±2500 m dpl memiliki jumlah rata-rata kromosom sebanyak 105,333 dengan hasil tipe sitologi tetraploid (4n). Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat ploidi Diplazium esculentum pada masing-masing ketinggian di Gunung Merbabu.

Keywords

Diplazium esculentum, gunung merbabu, kromosom, poliploidi

References

Chen, G., Sun, W. B., & Sun, H. (2009). Morphological characteristics of leaf epidermis and size variation of leaf flower and fruit in different ploidy levels in Buddleja macrostachya (Buddlejaceae). Journal of Systematics and Evolution , Vol 47 (3): 231–236 .

Hori, K., Zhou, X., Shao, W., Yan, Y. H., Wang, R. X., & Murakami, N. (2018). New Diploid Sexual Cytotypes of Dryopteris sect. Erythrovariae (Dryopteridaceae) in China. Acta Phytotax. Geobot., Vol 69 (2): 127–133.

Praptoswiryo, T. N. (2008). Biosystematic Study of The Fern Genus Diplazium in West Malesia. Bogor,Indonesia : IPB Press.

Prastyo, W. R., Heddy, S., & Nugroho, A. (2015). Identifikasi Tumbuhan Paku Epifit pada Batang Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis J.) di Lingkungan Universitas Brawijaya . Jurnal Produksi Tanaman, Volume 3, Nomor 1 : 65 - 74 .

Sandy, S. F., Pantiwati, Y., Huda, A. M., & Latifah, R. (2016). Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Paku (Pterydophyta) di Kawasan Air Terjun Lawean Sendang Kabupaten Tulungagung

. Seminar Nasional II UM Malang (pp. 828-836). Malang, Jawa Timur, Indonesia : UM Malang Press.

Segraves, K. A., & Anneberg, T. J. (2016). Species Interactions and plant polyploidy . American Journal of Botany, Vol 103 (10) : 1 – 10.

Sharpe, J. M., Mehltreter, K., & Walker, L. R. (2010). Ecological importance of ferns. In L. R.Klaus Mehltreter, & J. M. Sharpe., Fern Ecology (pp. 1-21). Sussex, England: Cambridge University Press .

Turot, M., Polii, B., & Walangitan, H. D. (2016). Potensi Pemanfaatan Tumbuhan Paku Diplazium esculentum Swartz (Studi kasus) di Kampung Ayawasi Distrik Aifat Utara, Kabupaten

Maybrat, Provinsi Papua Barat. Agri-SosioEkonomi Unsrat, Volume 12 Nomor 3A : 1 - 10.

Wang, Y., Chen, X., & Xiang, C.-B. (2007). Stomatal Density and Bio-water Saving. Journal of Integrative Plant Biology , Vol 49 (10): 1435–1444.

Wulandari, A., & Rahmawati, R. D. (2018). Tingkat Ploidi Paku Sayur (Diplazium esculentum) pada Ketinggian yang Berbeda di Gunung Semeru. Edubiotik, Vol. 3, No. 2 : Hal 58-63.

Yatskievych, G. (2002). Pteridophytes (Ferns). St Louis, MO, USA: John Wiley & Sons.

Article Metrics

Abstract view(s): 57 time(s)
PDF: 6 time(s) PDF (Bahasa Indonesia): 48 time(s)

Refbacks

  • There are currently no refbacks.