HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN DAN KADAR INTERLEUKIN-6 DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI STATUS GIZI LEBIH

Tri Agustina, Dono Indarto, Sugiarto Sugiarto

DOI: https://doi.org/10.23917/biomedika.v10i2.7021

Abstract

ABSTRAK

Status gizi lebih dan anemia merupakan gangguan gizi yang sering muncul pada remaja putri. Remaja putri berisiko tinggi terjadi gangguan gizi tersebut karena cenderung mengalami peningkatan kebutuhan zat gizi, pembatasan pola konsumsi dan penyimpangan pola konsumsi. Asupan protein yang tinggi akan diubah menjadi lemak dan disimpan menjadi jaringan adiposa. Pada status gizi lebih, inflamasi kronik terjadi di jaringan lemak dan terjadi peningkatan sekresi sitokin proinflamasi, seperti interleukin 6 (IL-6). Kadar IL-6 yang tinggi meningkatkan kadar hepsidin, yang dapat menurunkan kadar besi (Fe) dalam sirkulasi. Penelitian ini  bertujuanmenganalisis hubungan antara asupan protein dan kadar IL-6 dengan kadar hemoglobin (Hb) pada remaja putri status gizi lebih.  Data asupan protein menggunakan metode food recall 24 jam dan SQ-FFQ (semi quantitativefood frequency questionare). Kadar IL-6 diukur dengan pemeriksaan ELISA. Kadar Hb diukur dengan metode cyanmethaemoglobin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa asupan protein dan kadar IL-6 tidak berhubungan dengan kadar Hb (p=0,132) dan (p= 0,607). Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menganalisis hubungan status gizi lebih pada remaja putri dengan kejadian anemia, seperti kadar hepsidin, globin dan feritin. 

Kata kunci: Asupan Protein, Kadar IL-6, Kadar Hb, Remaja Putri, Status Gizi Lebih

 

ABSTRACT

Overnutritional status and anemia are nutritional disorders that often occur in female adolescents. Female  adolescents are at high risk of nutritional disorders because they tend to experience an enhanchement nutritional needs, restrictions on consumption patterns and eating disorder. High protein intake will be converted into fat and stored into adipose tissue. In overnutrition adolescents, chronic inflammation occurs in fat tissue and also increasing proinflamation sitokin secretion, such as interleukin 6 (IL-6). High levels of IL-6 increases hepsidin levels, and decreases iron (Fe) level in circulation. This study aims to analyze the corelation of protein intake and IL-6 level with haemoglobin level in overnutrition female adolescents. Data of protein intake is taken through 24 hours food recall and SQ-FFQ (semi quantitative-food frequency questionare). IL-6 levels were measured by ELISA while Hb level is obtained thorugh cyanmethaemoglobin method. The results of this study there is no corelation between protein intake and IL-6 level toward Hb level (p=0,132) and (p= 0,607). It is suggested for other researcher to analyze corelation between overnutrition state in female adolescents and anemia symptomps such as hepsidin, globin, and feritin level.

Keywords: Protein Intake, IL-6 Levels, Hemoglobin Levels, Adolescent Girls, Overnutritional Status

Full Text:

PDF

References

Almatsier, S., Susirah, S., dan Moesijanti, S. 2011. Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ariyani, R. 2010. Kesehatan Remaja : Problem dan Solusinya. Jakarta : Salemba Medika.

Arisman. 2009. Gizi Daur kehidupan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Bakta, I.M. 2009. Pendekatan Terhadap Pasien Anemia. Jakarta: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5, Jilid II, Pp: 1109-15.

Balitbang Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta : Balitbang Kemenkes RI.

Brown, and Judith, E. 2005. Nutrition Thorough the Life Cycle 2ed. USA: Thomson Wadsworth.

Dasuki. 2002. Konsumsi Lemak dan Status Gizi Remaja di Bogor. Fakultas Pertanian Institute Bogor. Bogor.

De Onis, M., Bloosner, M., dan Borghi, E. 2010. Global prevalence and trends of overweight and obesity among preschool children. American Journal of Clinical Nutrition. Vol.92: 1257-64.

Dwiningsih dan Pramono, A. 2013. Perbedaan Asupan Energi, Protein, Lemak, karbohidrat dan Status Gizi pada Remaja yang Tinggal di Wilayah Perkotaan dan Pedesaan. Skripsi. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas kedokteran Universitas Diponegoro.

Fernandez, R., dan Indrayani. 2010. Hubungan Tingkat Asupan Protein, Besi dan Vitamin C dengan Kadar Hemoglobin Siswi Kelas XI SMUN 1 Ngawi. Skripsi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Franks, P.W., Hanson, R.L., Knowler, W.C., Silver, M.L., Benneti., dan Looker H.C. 2010. Childhood obesity, other cardiovasculer risk factor, and premature death. New England Journal Medicine.Vol. 362, Pp: 485-93.

Fretham, S.J.B., Carlos, E.S., dan Georgieff, M.K. 2011. The role of iron in learning and memory. Advance Nutrition. Vol.2, Pp: 112-21.

Ganz, T., dan Nemeth E. 2011. Hepcidin and disorders of iron metabolism. Biochimia Biophysic Acta, vol. 62, Pp:347–360.

Indartanti, D., dan Kartini, A. 2014. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri. Journal of Nutrition College. vol.3, No.2, Pp: 33-39.

Kevin, A.S, Max, F.J.M., dan Rompis, J. 2015. Hubungan Antara Status Gizi dengan kadar Hemoglobin pada Remaja Usia 12-14 tahun. Journal e-Clinic. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.

Mahdiah. 2015. Obesitas dan Hubungan Konsumsi fast food dengan Kejadian Obesitas pada Remaja SLTP Kota dan Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tesis. Program Studi Ilmu Keshatan Masyarakat. Program Pascasarjana UGM. Yogyakarta.

McClung, J.P., dan Karl, J.P. 2008. Iron Deficiency and Obesity: the contribution of inflamation and diminished iron absorption. Nutrition Review, vol.67, no. 2, Pp: 100-104.

Novitasari, S. 2014. Hubungan Tingkat Asupan Protein, Zat besi, Vitamin C dan Seng dengan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri di SMA batik 1 Surakarta. Karya Tulis Ilmiah. Progdi DIII Gizi Universitas Muhammadiyah Surakara.

Price, E.A., dan Schrier, S.L. 2010. Unexplained Aspects of Anemia of Inflamation, Advances in Hematology. Edition.1. New York: McGraw Hill. Pp: 1-5.

Pudjiadi, dan Solihin. 2005. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Putri, A.A. 2011. Hubungan Antropometri dan Asupan Gizi dengan Kadar Hb dan Ferritin Remaja Putri. Skripsi. Fakultas kedokteran Universitas Diponegoro.

Ratu, A.D.S. 2011. Faktor Risiko Obesitas pada Anak 5-15 tahun di Indonesia. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Pp: 37-43.

Rudy, P. 2007. Besar Risiko Frekuensi Makan, Asupan Energi, Lemak, Serat dan Aktivitas Fisik terhadap Kejadian Obesitas pada Remaja Sekolah Menengah Pertama. Skripsi. Program Studi Ilmu Gizi FK UNDIP.

Salam, B. 2012. Hubungan Status Gizi dengan Kadar Hemoglobin Siswi di SMA Negeri 1 Mojolaban Kabupaten Sukoharjo. Skripsi. Program Studi Gizi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Shanon, G.M., Alexander, S.L.B., dan Shirley, E.S.K. 2014. Hubungan Antara Asupan Protein dan Zat Besi dengan Kadar Hemoglobin Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Angkatan 2013 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.

Sjarif, D.R., Lestari, E.D., Mexitalia, M., dan Nasar, S.S. 2011. Obesitas Anak dan Remaja. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. Jakarta: IDAI, Pp: 230 – 241.

Soetjiningsih. 2007. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Cetakan ke-2. Jakarta: Sagung Seto.

Sulistyoningsih, H. 2011. Gizi Untuk Ibu Dan Anak. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Toschke, A.M., Kuchenhoff, H., Koletzko, B., dan Von, K.R. 2005. Meal Frequency and Childhood Obesity. Obesity Res. vol. 13, no. 11, Pp: 1932-8.

WHO. 2008. Worldwide Prevalence of Anemia 1993-2005. World Health Organization. -www.who.int/vmnis/indicators/haemoglobin.pdf- Diakses Desember2015

Wiwied, D.O., Lintang, D.S., M.Zen, R. 2012. Hubungan Kebiasaan Konsumsi Fast Food, Aktivitas Fisisk, Pola Konsumsi, Karakteristik Remaja dan Orang Tua dengan Indeks Masa Tubuh (IMT).Jurnal Kesehatan Masyarakat. Pp: 542-553.

Yanoff, L.B., Manzie, C.M., Denkinger, B., McHugh, T., Sebring, N.G., Remaley, A.T., dan Yanovski, J.A. 2007. Inflamation and iron deficiency in the hypoferremia of obesity. International Journals Obesity (Lond). Vol.31, Pp: 1412-1419.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.