PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK SERASAH LAMUN (SEAGRASS) TERHADAP KUAT TEKAN DAN ABSORBSI AIR ECO-BATAKO

R. Bekti Kiswardianta, Farida Huriawati, Nurul Kusuma Dewi

DOI: https://doi.org/10.23917/bioeksperimen.v3i2.5183

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan serbuk serasah lamun (seagrass) terhadap pasir pada nilai kuat tekan dan absorbsi air eco-batako.Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni eksperimen dengan sampel eco-batako (20 x 10 x 6) cm dalam 4 variasi penambahan serbuk serasah lamun.Variasi pertama tanpa penambahan serbuk serasah lamun (0%), kedua dengan penambahan 5%, ketiga dengan penambahan 15%, dan yang keempat dengan penambahan 25%. Pengujian kuat tekan dan absorbs air dilakukan pada eco-batako umur 28 hari dengan sepuluh kali pengulangan dan diambil nilai rata-ratanya. Hasil penelitian menunjukan nilai kuat tekan untuk setiap variasi adalah 12,102 MPa untuk yang tanpa penambahan serbuk serasah lamun (0%), 11,011 MPa untuk penambahan 5%, 7,6044MPa untuk penambahan 15%, dan 5,3872MPa untuk penambahan 25%. Untuk data pengujian absorsi air adalah 12,439% untuk yang tanpa penambahan serbuk serasah lamun (0%), 13,81% untuk penambahan 5%, 15,215% untuk penambahan 15%, dan 16,019% untuk penambahan 25%. Kesimpulan yang diperoleh adalahsemakin banyak konsentrasi penambahan serbuk serasah lamun semakin rendah nilai kuat tekan eco-batako dan sebaliknya semakin sedikit penambahan konsentrasi serbuk serasah lamun dalam eco-batako semakin rendah daya absorbsi airnya

Keywords

Lamun, eco-batako, kuat tekan, absorbsi air

References

Benyamin Lakitan. 2004. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan: Raja Grafindo Persada.

Campbell, S. J., L. J. McKenzie, S. P. Kerville. 2006. Photosynthetic responses of seven tropical seagrasses to elevated seawater temperature. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 330: 455-468

Erftemeijer, P. L. A. and P. M. J. Herman. 1994. Seasonal changes in environmental variables, biomass, production and nutrient contents in two contrasting tropical intertidal seagrass beds in South Sulawesi, Indonesia. Oecologia 99: 45-59

Frick. H, 1999, Ilmu Konstruksi Bangunan I, Penerbit Kanisius : Yogyakarta.

Hemminga, M. A., and C. M. Duarte. 2000. Seagrass ecology. Cambridge University Press

Hunggurami, E, Wilhelmus B, Richardo Y, 2014.Studi Eksperimen Kuat Tekan dan Serapan Air Bata Ringan CLC dengan Tanah Putih sebagai Agregat. Jurnal teknik Sipil Volume 3 Nomor 2 Undana

Kahn, A. E., and M. J. Durako. 2006. Thalassia testudinum seedling responses to changes in salinity and nitrogen levels. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 335: 1-12

Kuo, J. 2007. New monoecious seagrass of Halophila sulawesii (Hydrocharitaceae) from Indonesia.Short communication.Aquatic Botany 87: 171-175

Masini, R. J., J. L. Cary, C. J. Simpson, A. J. McComb. 1995. Effects of light and temperature on the photosynthesis of temperate meadow-forming seagrasses in Western Australia. Aquatic Botany 49: 239-254

Nontji, A. 2005.Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta

Ralph, P. J., M. J. Durako, S. Enriquez, C. J. Collier, M. A. Doblin. 2007. Impact of light limitation on seagrasses. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 350: 176-193

SNI-03-3349-1996.Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Pustran, Balitbang,

Departmen Pekerjaan Umum.

Udy, J. W., and W. C. Dennison. 1997. Growth and physiological responses of three seagrass species to elevated sediment nutrients in Moreton Bay, Australia. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 217: 253-277

Article Level Metrics

Refbacks

  • There are currently no refbacks.