Perilaku Religiusitas dalam Ruwat

Sunarno Sunarno

DOI: https://doi.org/10.23917/indigenous.v11i2.1619

Abstract

Ruwatan sebagai bentuk budaya lokal dengan dalang ruwat sebagai tokoh yang berperan utama dalam prosesi ritual ruwatan yang memiliki religiusitas dalam mengemban tugas ngruwat. Religiusitas dalang ruwat ini adalah religiusitas yang sangat sarat dan erat dengan Agami Jawi. Penelitian dalam skripsi ini bertujuan untuk mengetahui seperti apakah religiusitas dalang ruwat, dan bagaimanakah perilaku religiusitasnya. Pertanyaan penelitian ini secara operasional adalah Secara kognitif meliputi konsepsi keTuhanan, konsepsi tentang nabi, dan konsepsi kitab suci. Secara afektif, apakah ada pengalaman-pengalaman religiusitas, dan perasaan-perasaan religius. Sedangkan secara psikomotorik meliputi, seperti apakah bentuk ritual dalang ruwat, dan bagaimanakah perilaku religiusitas riil dalam hidup sehari-hari. Informan dalam penelitian ini adalah dalang ruwat berjumlah 2 orang, dengan karakteristik (a) mereka yang telah lanjut usia, atau setidak-tidaknya dalang yang telah mengawinkan anaknya dalam arti mereka yang telah matang pengetahuannya dalam hal ruwatan; (b) dalang yang keturunan Kyai Panjangmas. Tokoh ini merupakan dalang kenamaan pada zaman Sultan Agung di Mataram (1613-1643M); (c) mereka yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, dan (d) berdomisili di Surakarta. Pengumpulan data yang diperoleh dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode wawancara, observasi, catatan lapangan, angket data diri, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan peneliti adalah analisa induktif deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah pertama, konsep keTuhanan dalang ruwat adalah konsep penghayatan terhadap Tuhan dengan tanpa adanya perpisahan antara seluruh alam semesta (panteisme). Kedua, nabi bagi dalang ruwat merupakan sosok yang sempurna. Ia memiliki kualitas-kualitas personal yang sempurna. Ketiga, seluruh alam raya adalah kitab suci Tuhan, karena seluruh jagad raya ini adalah emanasi Tuhan. Keempat, meditasi, samadhi, wening atau pujo broto sebagai ritual. Sedangkan melayani kemanusiaan adalah perilaku riil dalam hidup sehari-hari. Kelima, dampak psikis secara afektif, di antaranya adalah perasaan pasrah total kepada Tuhan, di dalam menjalani hidup rasa tenang dan tenteram, mampu hidup secara apa adanya, bersahaja, ikhlas dan mampu bersyukur atas apa yang Tuhan tetapkan, sering sekali mendapatkan petunjuk petunjuk Tuhan, memiliki kemampuan memprediksi nasib seseorang atau memprediksi sesuatu yang belum terjadi.

Full Text:

PDF

References

Elga Sarapung, dkk. (2004). Spiritualitas Baru, Agama & Aspirasi Rakyat. Yogyakarta: Institut DIAN/Interfidei.

Iskandar. (2004). Hubungan Tingkat Religiusitas Dengan Moral Kerja Karyawan Yang Beragama Islam PT. Tiga Serangkai Di Surakarta.. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mangkunegara IV. (1984). Wedhatama. Surakarta: PT PRADNYA PARAMITA.

Mangunwijaya, Y.B. (1999). Manusia Pascamodern,Semesta, dan Tuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Smith, Huston. (1995). Agama-agama Manusia. Yayasan Obor Indonesia.

Sumantri. (1996). Buku Pegangan Psikologi Agama. Surakarta: Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Suseno, F.M. (2006). Menalar Tuhan. Yogyakarta:Kanisius.

Article Metrics

Abstract view(s): 296 time(s)
PDF: 109 time(s)

Refbacks

  • There are currently no refbacks.