PERILAKU KONFORMITAS MASYARAKAT BADUY

Mulyanto Mulyanto, Nanik Prihartanti, Moordiningsih Moordiningsih

DOI: https://doi.org/10.23917/indigenous.v0i0.4690

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika perilaku konformitas masyarakat Baduy. Bagaimana bentuk-bentuk konformitasnya? Mengapa hal tersebut dianggap penting ditengah kondisi yang serba praktis sebagai ciri khas modernitas? Hasil penelitian ini mengemukakan bentuk-bentuk konformitas dalam masyarakat Baduy memiliki makna fungsional dan makna filosofis yang cukup dalam, baik dari bentuk perilaku, penampilan, maupun dalam bentuk pandangan. Masyarakat Baduy bahkan menganggap konformitas bukan suatu kekalahan individu oleh kelompok, melainkan ekspresi aktualisasi diri yang justru membuat individu menjadi lebih berharga karena telah berarti bagi banyak orang. Pada budaya Baduy, konformitas tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang baik, konformitas bahkan menjadi prasyarat keberhasilan fungsinya tatanan budaya, tatanan kelompok, dan hubungan interpersonal warga Baduy.

References

Baron, R. A dan Byrne, D. (2000). Social Psychology. Ninth Edition. Massachusetts: Allyn and Bacon.

Brigham, J.C. (1991). Social Psychology. New York: HarperCollins Publishers.

Bronfenbrenner, U. (1989). Ecology of the Family as a Context for Human Development: Research Perspectives. (Online) vol 22 no.6 p723-42. (http://www.psy.pdx.edu/KeyTheorists/Bronfenbrenner.htm.diakses 6 Mei 2006)

Chaplin, J.P. (2002). Kamus Lengkap Psikologi. (Terj. Kartini Kartono). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Djoewisno, M. S. (1988). Potret Kehidupan Masyarakat Baduy: Orang-orang Baduy Bukan Suku Terasing, Mereka yang Mengasingkan Diri di Banten Selatan. Jakarta: Khas Studio.

Garna, J.K. (1988). “Perubahan Sosial Budaya Baduy” dalam Nurhadi Rangkuti (peny). Orang Baduy dari Inti Jagat. Yogyakarta: Bentara Budaya, Harian Kompas, Etnodata, Prosindo, Yayasan Budhi Dharma Preseda.

______. (1993). “Masyarakat Baduy di Banten” dalam Koentjaraningrat (ed.) Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Gramedia.

_____. (1993). “Orang Baduy di Jawa: Sebuah Studi Kasus mengenai Adaptasi Suku Asli terhadap Pembangunan” dalam Lick Teck Ghee & Alberto G. Gomes (peny). Suku asli dan Pembangunan di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Kaplan, D. Dan Manners, R.A. (2002). Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Matsumoto, D. (2004). Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Permana, R.C.E. (2005). Kesetaraan Gender dalam Adat Inti Jagat Baduy. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Prawira, N. G. (2000). Kriya dan Rekahias Baduy: Bentuk, Fungsi, Motif, Simbol dan Makna. Jurnal Seni Rupa dan Desain, (Online). (http://www.jurnal-opertis4.org/file/kopwi14-336.doc, diakses 25 April 2005).

Sears, D.O; Freedman, J. L; dan Peplau. L.A. (1994) Psikologi Sosial, jilid 2 edisi kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Suhada. (2003). Masyarakat Baduy dalam Rentang Sejarah. Banten: Dinas Pendidikan Propinsi Banten.

Suparlan, P. (2001). Globalisasi dan Kebudayaan Lokal: Suatu Dialektika Menuju Indonesia Baru. Jurnal Antropologi Indonesia. Vol 65. Hlm, 121-156.

Article Metrics

Abstract view(s): 438 time(s)
PDF (Bahasa Indonesia): 137 time(s)

Refbacks

  • There are currently no refbacks.