Efektivitas Personal Safety Skill terhadap Peningkatan Kemampuan Mencegah Kekerasan Seksual pada Anak Ditinjau dari Jenis Kelamin

Nurul Mahmudah Umar, IGAA Noviekayati, Sahat Saragih

DOI: https://doi.org/10.23917/indigenous.v3i1.5815

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas Personal Safety Skill terhadap peningkatan kemampuan mencegah kekerasan seksual pada anak ditinjau dari jenis kelamin. Penelitian ini memiliki 3 variabel penelitian. Variabel Y kekerasan seksual  adalah tindakan yang mengarah ke ajakan seksual seperti menyentuh, meraba, mencium, menonton produk pornografi, gurauan-gurauan seksual.  Variabel X1 Personal Safety Skill  adalah keterampilan keselamatan pribadi yang perlu dikuasai oleh anak agar dapat menjaga keselamatan dirinya dan terhindar dari tindakan kekerasan seksual yang memiliki tiga komponen yaitu Recognize, Resist, Report. Variabel X2 jenis kelamin adalah sifat jasmani atau rohani yang membedakan dua makhluk sebagai wanita dan pria. Pelatihan ini diikuti oleh 9 siswa dan 9 siswi TK PGRI Samboja. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling dengan menggunakan metode penelitian quasi eksperimen. Hipotesis pertama diuji dengan Teknik Kendall’s W Test Wa score = 0.347 dengan p=0.012 (p<,0,05) yang menunjukkan Personal Safety Skill efektif untuk meningkatkan kemampuan mencegah kekerasan seksual. Hipotesis kedua diuji Teknik Mann whitney U test  Z = -1.737 dengan nilai p = 0.082. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kekerasan seksual ditinjau dari jenis kelamin. Hipotesis ketiga diuji dengan Teknik Mann whitney U test  Z=-2.160 dengan nilai p =0.031a menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap Personal Safety Skill ditinjau dari jenis kelamin.

Kata kunci : Jenis Kelamin, Kekerasan Seksual, Personal Safety Skill

References

Azwar, S. (2001). Metode Penelitian.Yogayakarta: Pustaka Pelajar

Bagley, C., & Kathleen, K. (2004). Child sexual abuse: the search for healing. New York : Routledge.

Bayu, D. J. (2016, Oktober 02). Meski Sering Alami Kejahatan Seksual, Anak Laki-laki Tak Banyak Melapor. Diambil tanggal 12 Januari 2018, dari http://nasional.kompas.com/read/2016/10/02/13384091/meski.sering.alami.kejahatan.seksual.anak.laki-laki.tak.banyak.melapor

Finkelhor. (2009). The international epidemiology of child sexual abuse: a continuation of Finkelhor (1994). Child Abuse Negl, Jun; 33(6):331-42. doi: 10.1016/j.chiabu.2008.07.007.

Harahap, L. H. (2014) Studi Tentang Proses Penyelidikan Kasus Pedofilia di Yogyakarta, Yogyakarta : UIN Kalijaga, h.77.

Kendall, P.C. (2012). Child and Adolescent Therapy : Cognitive-Behavioral Procedures. New York : The Guildford Press.

Ramadhian, F. (2014, April 23). Guru SD di Kutai jadi tersangka Pedofilia. Diambil tanggal 01 Januari 2018, dari https://www.merdeka.com/peristiwa/guru-sd-di-kutai-jadi-tersangka-pedofilia.html

Tabachnick, J., & Pollard, P. (2016). Considering Family Reconnection and Reunification after Child Sexual Abuse. A Road Map for Advocates and Service Providers. Enola : National Sexual Violence Resource Center.

Wong, D. L., Hockenberry, E. M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., & Schwartz, P. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong Vol. 1 6th ed. Jakarta: EGC.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.