AL-QUR’AN DAN MULTIKULTURALISME

Abdullah Mahmud

Abstract

Artikel pendek ini berupaya untuk menggali kembali nilai-nilai multikultural dalam sejarah panjang akar kehidupan bangsa dalam rangka untuk menemukan formula membangun kehidupan bersama yang bebas dari prejudice, stereotipe, dan sentimen-entimen primordial lainnya, yang sewaktu-waktu dapat menjadi “bom waktu” yang mengancam ko-eksistensi kehidupan dari perspektif agama Islam, yakni menggali kembali nilai-nilai multikultural dalam al-Qur’an. Menurut penulis Pluratiltas dan multikulturalitas adalah sebuah keniscayaan dan merupakan sunnatullah yang terjadi di alam semesta dan manusia. Multikulturalitas adalah sebuah realitas yang kasat mata dan tidak perlu diingkari keberadaannya. Namun demikian, dalam perspektif Islam ia tidak harus dipandang sebagai suatu hal yang berdiri sendiri, akan tetapi sangat bergantung pada konsep lain sebagai satu kesatuan. Tawhid (keesaan Tuhan) adalah sebuah konsep sentral yang meletakan kesatuan sebagai inti pandangan dan sekaligus merupakan esensi ajaran dan kebudayaan Islam yang berfungsi sebagai kekuatan sentripetal (pengikat) dari berbagai pluralitas-multikulturalitas bangsa, suku, ras, agama, madzab/golongan, politik, dan berbagai unsur budaya. Bhineka Tunggal Ika (unity in diversity) adalah ungkapan padanan yang tepat untuk menggambarkan Islam dan multikulturalisme itu. Dalam berbagai agama, khususnya Islam, terdapat apa yang disebut great tradition atau high tradition dan litlle tradition atau low tradition, sebagai akibat bertemunya agama dan budaya. Demikian juga dialektika antara Islam yang bersifat universal sebagai agama langit dan budaya lokal yang bersifat partikular pada gilirannya, akan menghasilkan corak atau warna Islam yang berbeda-beda satu tempat dengan tempat lain.

Keywords

multikultaralisme, pluralitas, al-Qur’an, tawhid

Full Text:

PDF

References

Al-Qur’an dan Terjemahan. 20018. Departemen Agama RI. Bandung: Diponegoro

Harun Nasution. “Sekapur Sirih”, dalam Gustave L. Von grunebaum. (ed.). 1975. Unity in Diversity in Muslim Civilization. (terj). Jakarta: Yayasan Obor.

Ismail Raji al-Faruqi dalam Musa Asy’ari. 1992. Manusia pembentuk kebudayaan dalam al-Qur’an, Yogyakarta:

Koentjaraningrat. 1982. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

______________. 1985. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

M. Amin Abdullah, 2005. Pendidikan Agama Era Multikultural-Multireligius. Jakarta: PSAP. Insani.

M. Imarah, Al-Islam wa at-Ta’addudiyah: Al- Ikhtilaf wa at-Tanawwu’ fi Ithar al-Wihdah, (Terj.) Jakarta: Gema

Muhammad Wahyuni Nafis, Pengantar Editor, Dalam Nurcholish Madjid. 1995. Islam Agama Kemanusiaan, Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. hal. VII.

Nurcholish Madjid, dalam Ulumul Qur’an, No 3, vol. vi, 1995. hal. 62.

_______________. 1992. “Kata Pengantar” dalam Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemoderanan, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, , hal. Lxviii.

_______________. 1992. Islam, Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis Tentang masalah Keimanan,

Parsudi Suparlan, 2002. Menuju masyarakat Indonesia Yang Multikultural. Simposium Internasional. Denpasar: Univesitas Udayana. hal. 100.

Article Metrics

Abstract view(s): 82 time(s)
PDF: 55 time(s)

Refbacks

  • There are currently no refbacks.