Hotel Toegoe dalam Perspektif Nilai Historis Sebuah Landmark

Fauzi Mizan Prabowo Aji(1*)

(1) Architecture Department, Universitas Muhammadiyah Surakarta
(*) Corresponding Author

Abstract

Sebagai salah satu bangunan Cagar Budaya di Kota Yogyakarta, Hotel Toegoe menyimpan potensi ekonomi, sosial, budaya dan nilai historis yang cukup penting. Hal tersebut dikarenakan lokasinya yang strategis serta sejarah pendiriannya yang berkesinambungan dengan perkembangan kota Yogyakarta di era kolonial Belanda. Hotel Toegoe dari segi ukuran memiliki dimensi yang cukup besar sehingga pada tahun 2007 ditetapkan sebagai Cagar Budaya peringkat Nasional. Berdiri sejak sekitar tahun 1880, hotel Toege adalah saksi sekaligus memiliki peran dalam setiap peristiwa sejarah seperti misalnya menara pada bangunan ini yang sejak dulu hingga masa setelah kemerdekaan selalu digunakan sebagai sirine penanda. Seiring berjalannya waktu, Hotel Toegoe pernah dijadikan sebagai markas militer hingga toko alat rumah tangga. Sayangnya pada tahun 2008 bangunan ini mulai terbengkalai dan mengalami kerusakan cukup parah akibat diabaikan terlalu lama. Melalui tulisan ini, urgensi menggali sejarah, fakta serta dokumentasi yang lengkap (historical research) diharapkan dapat menjadi referensi untuk memotivasi pelestarian bangunan bersejarah khususnya yang berpotensi menjadi identitas, penanda atau landmark kota Yogyakarta.

Keywords

Sejarah; Hotel Toegoe; Landmark

Full Text:

PDF

References

Appleyard, Donald. (1979). The Conservation of Europen Cities. The MIT Press.

Betsky, A. (1997). Icons: Magnets of Meaning. San Francisco: Chronicle Books.

Darsono, Agustinus. (2011). Front Office Hotel. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Lynch, Kevin. (1960). The Image of The City. Cambridge: M.I.T. Press.

Martokusumo, Widjaja. (2006). Revitalisasi dan Rancang Kota: Beberapa Catatan dan Konsep Penataan Kawasan Berkelanjutan. Bandung: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 17/Nomor 3.

Nurisjah, S. & Pramukanto. (2001). Perencanaan Kawasan Untuk Pelestarian Lanskap dan Taman Sejarah. Bogor: Program Studi Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor.

Purwantiasning, A.W., Hadiwinoto, A. & Hakim, L. (2014). Revitalization of Port Area as an Effort to Preserve The Identity of The City. Italy: The Faculty of Architecture.

Rukayah, R. S., Respati, P. D., & Susilo, S. E. S. (2016). Morphology of Traditional City Center in Semarang: Towards Adaptive Reuse in Urban Heritage. Environtment-Behaviour Proceedings Journal, 1(4), 109-118.

Salain, Putu. (2012). Metode Konservasi di Indonesia: Prosedur Pemugaran Bangunan Bersejarah. Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana.

Sedyawati, Edi. (2007). Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sidabutar, Yuanita, dkk. (2017). Pengaruh Kualitas Bangunan dan Kondisi Lingkungan Bangunan Bersejarah Terhadap Wisata Budaya di Kota Medan. Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017.

Sklair, Leslie. (2012). Towards an Understanding of Architectural Iconicity in Global Perspective. Amsterdam: Amsterdam University Press.

Spillane, James. (1987). Ekonomi Pariwisata Sejarah dan Prospeknya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Zahnd, Markus. (1999). Perancangan Kota secara Terpadu: Teori Perancangan Kota dan Penerapannya. Yogyakarta: Kanisius.

Article Metrics

Abstract view(s): 133 time(s)
PDF: 208 time(s)

Refbacks

  • There are currently no refbacks.